Kamis, 28 November 2013

Agar minat belajar siswa meningkat

Istilah penjurusan pada kurikulum 2013 berganti menjadi peminatan. Peminatan menambahkan unsur minat pada penempatan siswa disamping melihat kemampuan akademis siswa, bidang apa yang diminati menjadi bahan untuk dipertimbangkan.
Ada beberapa penyebab siswa tidak ditempatkan di jurusan yang diminatinya seperti nilai yang kurang mendukung siswa untuk mendalami ilmu tertentu, kurangnya fasilitas pendukung, kapasitas kelas yang tidak mencukupi, kurangnya guru ahli, tidak diterima di jurusan yang diminati sehingga terpaksa menjalani jurusan yang menerima kemampuannya, bahkan ada pula karena orangtua yang menginginkan anaknya memasuki jurusan tertentu padahal anak tidak berminat.
Minat seseorang terhadap sesuatu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari diri siswa maupun situasi lingkungannya. Minat merupakan fenomena psikis yang tidak dapat dipaksakan, namun hal ini dapat ditumbuhkan. Hal-hal berikut diharapkan dapat membantu menumbuhkan minat siswa.
Hal pertama dalam menumbuhkan minat siswa untuk belajar adalah keterampilan teknik belajar, guru sebagai pengajar tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran dan menjadi guru yang menyenangkan dan menarik, namun guru harus membantu siswa untuk aktif belajar dengan memberi keterampilan mengenai teknik-teknik belajar, cara membaca cepat, teknik merangkum, tips mengingat rumus dst.
Hal kedua. Menumbuhkan Kebutuhan akan belajar. Selain itu siswa perlu diberi kesadaran akan pentingnya belajar. Alasan-alasan logis hingga siswa merasa belajar adalah suatu kebutuhan diri untuk mencapai cita-citanya, harapannya, dan bahwa belajar adalah langkah pertama untuk memulai suatu kesuksesan. 
Baca selengkapnya klik disini

Kelemahan dan Kelebihan Belajar Kelompok


Belajar kelompok adalah pembelajaran kooperatif yang memiliki manfaat sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.
Kelemahannya belajar kelompok:
Bisa menjadi tempat mengobrol. Sebaiknya belajar kelompok tidak lebih dari tujuh siswa, karena jika terlalu banyak maka kecenderungan negative yang timbul seperti mengobrol sehingga focus pada belajar terganggu. Mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
Sering terjadi debat sepele. Debat sepele ini sering terjadi di dalam kelompok. Debat sepele ini sering berkepanjangan sehingga membuang waktu percuma. Untuk itu, dalam belajar kelompok harus dibuatkan agenda acara.
Bisa terjadi kesalahan kelompok. Jika ada satu anggota kelompok menjelaskan suatu konsep dan yang lain percaya sepenuhnya konsep itu, dan ternyata konsep itu salah, maka semua anggota kelompok berbuat salah.
Kelebihan belajar kelompok:Selengkapnya klik disini

Sabtu, 09 November 2013

Mengatasi Rasa Putus Asa siswa dalam Belajar

Sering  dijumpai siswa di masa kini menghadapi mata pelajaran yang terasa sulit bagi siswa, misalnya saja pelajaran matematika atau bahasa asing. Kesulitan belajar merupakan suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya dengan gejala yang tampak dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Siswa yang mengalami kesulitan belajar cenderung memiliki tingkat keputusasaan yang tinggi dalam mempelajari pelajaran tertentu. Putus asa adalah sikap menyerah. Secara mental rapuh dan cenderung kurang rasional. Rasa putus asa muncul dikarenakan siswa merasa sama sekali tidak ada harapan. Patah semangat. Merasa tidak ada solusi lagi. Semua jalan dianggap jalan buntu. Usaha dirasa sulit dan sia-sia. Perlu adanya bimbingan dan konseling bagi pemecahan masalah putus asa ini. Jika tidak segera ditangani maka sangat berpengaruh pada psikis siswa dan berpengaruh pada prestasi belajarnya.
Sebab-sebab siswa mudah putus asa diantaranya sebagai berikut :
Pertama. Pendidikan masa kecil yang terlalu dimanja. Anak yang terlalu dimanja saat kecil dan remaja bisa membuat anak rapuh dan tidak kuat bila suatu saat menghadapi sedikit rintangan dalam hidupnya. ia sudah terbiasa hidup enak dan dilayani sehingga kurang punya kreativitas bisa menemui kesulitan. Kedua. Pernah gagal. Kegagalan masa lalu ini bisa menjadi penyebab seseorang untuk putus asa. Namun hal ini bisa diatasi dengan selalu menanamkan pikiran positif dalam dirinya. Ketiga. Kurang bersyukur. Setiap anak punya keunikan dan kelebihan. namun anak terkadang belum mapu melihat keistimewaan itu. Sehingga yang dilihat hanyalah kekurangan semata. Keempat. Keadaan lingkungan. Keadaan lingkungan seringkali mempengaruhi semangat anak dalam belajar, namun yang terpenting adalah bagaimana usahanya dalam mencapai keberhasilan.
Penanganan bagi siswa yang mengalami rasa putus asa dalam belajar yaitu:
1.      Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan perlu dilakukan misal pada anak yang mengalami masalah kesehatan mata, dan belum pernah diperiksa. Ternyata diketahui bahwa penyebab selama ini anak pusing dan berkunang-kunang saat membaca buku adalah mata yang kelelahan dan kurang sehat tetapi belum ditangani. Jika fisik sudah ditangani maka perlu adanya penanganan terhadap psikis anak.
2.      Belajar bersyukur. Mengingatkan anak untuk bersyukur untuk hal-hal yang dapat membantu dalam belajar sangatlah perlu. Dengan menyukuri apa yang dimiliki seperti tangan, mata, buku, jika dibandingkan mereka yang tidak memiliki tangan untuk menulis, mata untuk membaca, kemampuan orang tua untuk menyekolahkan. Bersyukur ditunjukkan dengan mengindari berkeluh kesah yang berlebihan. Jika memang ada masalah maka bisa di ceritakan kepada orangtua, konselor maupun teman dekat untuk meringankan beban mental. 

SELENGKAPNYA
Klik: Koran pendidikan mengatasi rasa putus asa dalam belajar

Rabu, 06 November 2013

Tips menangani ketakutan siswa oleh guru bk



Tips menangani ketakutan siswa oleh guru bk
Oleh: Munauwaroh S.Psi

Ketakutan adalah suatu reaksi atau tanggapan emosi terhadap sesuatu yang dianggap bisa mengancam psikis maupun fisik. Pada umumnya ketakukan terkait akan kondisi yang tidak diharapkan dan hal yang belum tentu terjadi.
Pada siswa sendiri, masalah ketakutan yang sering terjadi adalah pada saat mengerjakan ujian, menunggu hasil nilai, ketakutan akan mata pelajaran tertentu, takut saat maju di depan teman kelas, takut salah, takut jadi bahan tertawaan teman atau jadi bahan ejekan teman, bahkan takut dimarahi guru.
Rasa takut adalah reaksi yang wajar, namun jika sudah menjadi ketakutan justru hal ini tidak baik bagi kondisi psikis siswa. Perlunya sikap berani melakukan hal baik perlu dibiasakan bagi siswa. Siapa yang mampu menumbuhkan sikap berani dan bukan penakut pada diri siswa bukan hanya konselor di sekolah. Namun juga perlu dukungan dari diri siswa itu sendiri, guru kelas dan orangtua siswa.
Adanya keinginan untuk berani. Tugas konselor bisa berupa melakukan konseling pada siswa, hal apa yang ditakuti siswa perlu digali, apa penyebabnya, dan bagaimana solusinya. Perlu ada keinginan dari siswa bahwa ia memiliki keinginan menjadi anak yang berani dalam hal positif.
Berpikir positif. Pola pikir positif perlu di tumbuhkan pada siswa. Meyakinkan siswa bahwa hal yang ditakutkan belum tentu terjadi perlu ditegaskan. Seperti saat ujian, siswa ketakutan dan berfikir bagaimana jika nilainya buruk, apa yang harus dilakukan, bagaimana tanggapan guru dan orangtua, bagaimana jika nilai buruk diketahui siswa lain. Padahal berbagai pertanyaan dan kemungkinan ini belum tentu terjadi.
Sikap yang positif dan segera dilakukan. Sikap yang penting berani maju, menghadapi dan melakukan adalah suatu nilai positif, dibandingkan mundur sebelum berperang, masalah hasil bukan jadi soal, karena persoalan utama adalah menumbuhkan keberanian untuk maju.
Lakukan pengulangan disertai penguatan-penguatan. Misalkan pada siswa yang ketakutan maju di depan siswa lain. Katakan bahwa anda ada selalu mendukung di belakangnya atau jika ia berhasil berbicara di depan siswa lain, di depan guru-guru, maka ada hadiah menanti. namun jangan terlalu sering memberi hadiah karena hadiah ini hanya untuk memotivasi di awal saja dan menghindari ketagihan akan hadiah.
Bagaimana jika siswa melakukan kesalahan pada saat ia telah mencoba? 
BACA SELENGKAPNYA KLIK: KORAN PENDIDIKAN TIPS MENGATASI KETAKUTAN SISWA