Rabu, 25 September 2013

PERBEDAAN TUGAS DAN GELAR PSIKOLOG, KONSELOR, PSIKIATER

PSIKOLOG, KONSELOR, PSIKIATER
PSIKOLOG
S1 = Jurusan Psikologi bergelar S.Psi
S2 = Jurusan Psikologi bergelar M.Psi
S3 = Doktoral bergelar Dr.
Gelar Psikolog didapat dengan kuliah profesi selama dua tahun
Contoh, Dr. Munauwaroh, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Psikolog berhak memberi Psikotes-Psikotes. terapi-terapi misal pada Klien yang mengalami phobia, trauma, Stress.
Organisasi Resminya adalah HIPMSI (Himpunan Psikologi Indonesia)
Simbol Psikologi :

 Simbol HIPMSI :


KONSELOR
S1 = Jurusan Bimbingan dan Konseling bergelar S.Pd
S2 = Jurusan Bimbingan dan Konseling bergelar M.Pd
S3 = Doktoral bergelar Dr.
Gelar Konselor  (Kons. ) didapat dengan kuliah profesi selama dua tahun
Contoh, Dr. Munauwaroh, S.Pd., M.Pd., Kons.
Konselor berhak memberi Bimbingan dan Konseling (bantuan) kepada Konseli. Memberikan bimbingan karir. Arahan untuk Bakat dan Minat.
Organisasi Resminya adalah ABKIN (Assosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia)
Simbol Konselor:
 
Simbol ABKIN:

PSIKIATER
S1 = Dokter Umum
Kuliah lagi spesialis kedokteran jiwa
Gelar Psikiater didapat dari keahlian bidang psikiatri sekitar lima tahun. Baru layak menyandang gelar spesialisasi Psikiater.
Psikiater berhak memberikan (resep) obat kepada pasien. Misal obat anti depresan pada orang gila.
Contoh, dr. Munauwaroh, SpKj.
Simbol Psikiatri :

Sebagai konselor bekerjasama dengan psikolog dan psikiater. Jika klien butuh psikotes, konselor merujuk klien ke seorang Psikolog. Termasuk konsultasi atau intervensi lanjutan dengan keahlian terapi khusus oleh Psikolog. Jika klien dianggap membutuh obat karena ada halusinasi, gangguan tidur dsb, biasanya direfer ke seorang Psikiater.


Penanganan pada siswa korban bullying

Bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Bullying berasal dari kata bully yang artinya gertak, menggertak dan mengganggu orang yang lemah untuk kepuasan mereka sendiri. Bullying merupakan bentuk awal dari perilaku agresif yaitu tingkah laku yang kasar. Hal itu bisa dilakukan oleh kelompok atau individu.
Dalam psikologi, bullying merupakan pikiran dan keinginan pelaku untuk menyakiti orang lain diikuti oleh tindakan negatif. Contoh: Mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok; Memukul, menjegal; Mengatakan kebohongan atau rumor yang keliru.
Dampak psikis berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis dan penyesuaian sosial yang buruk. 
Penanganan yang bisa dilakukan oleh konselor adalah:
1. Pendekatan kepada anak. Baik kepada yang korban atau pelaku. Usahakan untuk  mengetahui apa yang terjadi seperti apa permasalahannya dan apa alasan mengapa siswa tersebut membully temannya.
2. Menjalin empati. Bantu si korban bullying tersebut mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan. Pastikan menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti siswa tersebut. 
3. Ajarkan untuk bersikap tegas. Ajarkan pada anak Anda untuk berdiri tegak dan menunjukkan kepercayaan diri, tegakkan kepala serta menggunakan suara jelas.
4. Sepakatlah dengan pengusik. Misalnya, ada yang mengatakan “Hei gendut”. Anak menjawab “Ya kamu benar”.
5. Jawab saja jika di olok, tetapi bukan dengan menyindir balik. Misal “Kamu bodoh”. Anak menjawab “Ya, terima kasih sudah memberi tahu aku”.
6. Abaikan gangguan tersebut. Para pengusik suka jika sindirannya dapat mengganggu korban-korban mereka. Jika bias mengabaikan maka pelaku akan bosan dengan sendirinya.
7. Bantu siswa supaya gangguan tersebut tidak melukai perasaannya. Dengan mengalihkan pandangan atau pura-pura tidak melihat merupakan hal yang efektif untuk menghindari pengusik.
8. Beri tahu siswa tentang apa saja yang menjadi haknya di sekolah, termasuk mendapat perlakuan yang baik dan sewajarnya. Jadi, jika ada yang memperlakukannya dengan tidak baik, dia dapat menolak dengan tegas.
9. Ajarkan untuk tidak perlu takut melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang dia terima pada pihak yang memiliki kewenangan di sekolah.
Bullying memang tidak bisa dihilangkan begitu saja, namun tugas sebagai konselor bisa meminimalisir tindakan bullying, sehingga para peserta didik dapat menimba ilmu dengan tenang di sekolah, tanpa ada tekanan fisik dan psikis yang dirasakan.
ARTIKEL INI PERNAH DIMUAT DI KORAN PENDIDIKAN RUBRIK KLINIK KONSELING EDISI 479/III/18-24 SEPTEMBER 2013 HALAMAN 19 PENULIS MUNAUWAROH, S.Psi.

Penyebab Murid Membenci Guru dan Cara Mengatasinya

Penyebab Murid Membenci Guru
Perlu diketahui penyebab murid membenci Guru antara lain; guru tidak disiplin; pilihkasih; masalah penilaian; sikap guru dan perkataan; sikap guru yang cuek dan seenaknya sendiri; hanya mengejar target silabus; dan hanya ingin gaji. Bagaimana penyelesaiannya secepatnya agar masalah tidak berlarut-larut. Masalah ketidaksukaan murid pada guru tidak bisa diacuhkan saja. Perlu adanya penanganan, agar prestasi siswa tidak menurun. 

Bagaimana cara menangani murid yang membenci guru? Apa yang harus dilakukan jika murid mengatakan ia tidak menyukai guru tertentu?

  • Saat anak mengatakan “aku tidak suka guru A” maka simak baik-baik penjelasan anak sehingga anak merasa nyaman mencurahkan isi hatinya. Bersikap netral dan melihat permasalahan secara jernih. 
  • Jika anak mengeluh tentang sikap gurunya sebaiknya tidak menyalahkannya, tapi gali lebih dalam apa masalahnya. Bisa jadi anak yang membuat kegaduhan di kelas namun bias jadi karena sikap guru yang kurang disuka anak. 
  • Tanyakan bagaimana keinginan anak? Apakah keinginannya itu mengarah pada kebaikan seperti ingin guru mau menjelaskan dengan baik atau keinginan-keinginan lain. 
  • Apakah teman lain yang sekelas juga merasakan hal yang sama? Atau hanya dia? Jika murid lain merasakan hal yang sama bisa jadi memang sikap guru yang kurang baik. Jika hanya seorang atau beberapa maka perlu dipertanyakan, apakah memang murid ini memiliki kebutuhan khusus, perlakuan khusus, sehingga perlu segera ditindaklanjuti.


Bagaimana penyelesaiannya secepatnya agar masalah tidak berlarut-larut. Masalah ketidaksukaan murid pada guru tidak bisa diacuhkan saja. Perlu adanya penanganan, agar prestasi siswa tidak menurun. Berikut hal-hal yang perlu di terapkan agar guru dicintai oleh anak didiknya.

Agar murid mencintai Guru
Berikut hal-hal yang perlu di terapkan agar guru dicintai oleh anak didiknya:
1. Sikap Sabar.  Bisa jadi materi yang diajarkan benar-benar baru bagi anak, sehingga anak butuh waktu untuk mencerna materi yang diajarkan. Jagan menilai dari kemampuan sendiri. Dengan menggerutu di dalam hati kenapa sich kok gak paham-paham? Lama banget mikirnya? guru harus menyadari bahwa dirinya telah mempelajari materi itu berulangkali bertahun-tahun bahkan puluhan tahun mendalami materi itu. Sedangkan bagi murid hal itu benar-benar hal yang baru, maka sabar adalah kuncinya.
2. Menghargai. Hasil ujian yang kurang baik, memang membuat guru kecewa, namun perlu diingat pula murid telah berusaha sekuat tenaga agar pintar. Murid juga tidak ingin mengecewakan guru & orang tua. Murid juga manusia yang mengalami penyesalan karena tidak mendapat nilai bagus. Maka tetap menghargai murid & terus memberi motivasi adalah hal yang diharapkan oleh murid.
3. Tidak memihak & pilih kasih. Baca Selengkapnya...

Penanganan bagi Anak Penyendiri (Bimbingan dan Konseling)

          Masalah Anak suka menyendiri termasuk kedalam masalah social. Memang anak penyendiri cenderung sulit beradaptasi dengan lingkungan. Anak yang penyendiri bisa juga disebabkan anak takut salah. merasa rendah diri bergaul dengan anak lain, hubungan dengan guru yang kurang baik, menarik diri dari pergaulan dan lebih memilih sendiri.
Sejatinya dalam diri anak juga ada rasa ingin bergaul, berteman, melakukan hal bersama-sama dengan teman lain, berbagi pengalaman dan keceriaan bersama. Namun anak bingung darimana ia harus memulai. 
1. Beri Contoh tindakan positif. Dengan mencontohkan tindakan positif lebih baik daripada larangan. Seperti katakan “hay” saat bertemu anak lain, lebih baik daripada mengatakan pada anak “kamu jangan diam saja, kamu jangan malu”.
2. Hindari memberikan label negative pada anak. Apalagi di depan anak yang lain. Label negatif yang diberikan ini jelas akan membuat anak pemalu menjadi lebih malu, merasa tidak nyaman karena merasa ada sesuatu yang bermasalah dengan dirinya. Hal ini berakibat pada anak justru lebih menarik dirinya untuk tidak berinteraksi dengan orang lain sama sekali.

Kamis, 05 September 2013

Penanganan pada siswa Hiperaktif

Ada beberapa hal yang bisa diupayakan oleh guru dalam mengatasi anak hiperaktif di sekolah dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini: (a) Menempatkan anak di bangku yang dekat guru, di antara anak yang tenang dan amat memperhatikan pelajaran; (b) Menghindari menempatkan anak di dekat jendela, pintu terbuka atau gambar atau lukisan yang warnanya cerah karena akan merusak konsentrasinya; (c) Menatap anak saat berkomunikasi; (d) Menyingkirkan perlengkapan yang tidak diperlukan di meja belajar anak, supaya perhatiannya tidak pecah SELENGKAPNYA KLIK DISINI