Sabtu, 09 November 2013

Mengatasi Rasa Putus Asa siswa dalam Belajar

Sering  dijumpai siswa di masa kini menghadapi mata pelajaran yang terasa sulit bagi siswa, misalnya saja pelajaran matematika atau bahasa asing. Kesulitan belajar merupakan suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya dengan gejala yang tampak dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Siswa yang mengalami kesulitan belajar cenderung memiliki tingkat keputusasaan yang tinggi dalam mempelajari pelajaran tertentu. Putus asa adalah sikap menyerah. Secara mental rapuh dan cenderung kurang rasional. Rasa putus asa muncul dikarenakan siswa merasa sama sekali tidak ada harapan. Patah semangat. Merasa tidak ada solusi lagi. Semua jalan dianggap jalan buntu. Usaha dirasa sulit dan sia-sia. Perlu adanya bimbingan dan konseling bagi pemecahan masalah putus asa ini. Jika tidak segera ditangani maka sangat berpengaruh pada psikis siswa dan berpengaruh pada prestasi belajarnya.
Sebab-sebab siswa mudah putus asa diantaranya sebagai berikut :
Pertama. Pendidikan masa kecil yang terlalu dimanja. Anak yang terlalu dimanja saat kecil dan remaja bisa membuat anak rapuh dan tidak kuat bila suatu saat menghadapi sedikit rintangan dalam hidupnya. ia sudah terbiasa hidup enak dan dilayani sehingga kurang punya kreativitas bisa menemui kesulitan. Kedua. Pernah gagal. Kegagalan masa lalu ini bisa menjadi penyebab seseorang untuk putus asa. Namun hal ini bisa diatasi dengan selalu menanamkan pikiran positif dalam dirinya. Ketiga. Kurang bersyukur. Setiap anak punya keunikan dan kelebihan. namun anak terkadang belum mapu melihat keistimewaan itu. Sehingga yang dilihat hanyalah kekurangan semata. Keempat. Keadaan lingkungan. Keadaan lingkungan seringkali mempengaruhi semangat anak dalam belajar, namun yang terpenting adalah bagaimana usahanya dalam mencapai keberhasilan.
Penanganan bagi siswa yang mengalami rasa putus asa dalam belajar yaitu:
1.      Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan perlu dilakukan misal pada anak yang mengalami masalah kesehatan mata, dan belum pernah diperiksa. Ternyata diketahui bahwa penyebab selama ini anak pusing dan berkunang-kunang saat membaca buku adalah mata yang kelelahan dan kurang sehat tetapi belum ditangani. Jika fisik sudah ditangani maka perlu adanya penanganan terhadap psikis anak.
2.      Belajar bersyukur. Mengingatkan anak untuk bersyukur untuk hal-hal yang dapat membantu dalam belajar sangatlah perlu. Dengan menyukuri apa yang dimiliki seperti tangan, mata, buku, jika dibandingkan mereka yang tidak memiliki tangan untuk menulis, mata untuk membaca, kemampuan orang tua untuk menyekolahkan. Bersyukur ditunjukkan dengan mengindari berkeluh kesah yang berlebihan. Jika memang ada masalah maka bisa di ceritakan kepada orangtua, konselor maupun teman dekat untuk meringankan beban mental. 

SELENGKAPNYA
Klik: Koran pendidikan mengatasi rasa putus asa dalam belajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar