Sering dijumpai siswa di masa kini menghadapi mata
pelajaran yang terasa sulit bagi siswa, misalnya saja pelajaran matematika atau
bahasa asing. Kesulitan belajar merupakan suatu keadaan dalam proses belajar
mengajar dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya dengan gejala
yang tampak dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Siswa yang mengalami kesulitan belajar cenderung memiliki tingkat
keputusasaan yang tinggi dalam mempelajari pelajaran tertentu. Putus asa adalah
sikap menyerah. Secara mental rapuh dan cenderung kurang rasional. Rasa putus
asa muncul dikarenakan siswa merasa sama sekali tidak ada harapan. Patah
semangat. Merasa tidak ada solusi lagi. Semua jalan dianggap jalan buntu. Usaha
dirasa sulit dan sia-sia. Perlu adanya bimbingan dan konseling bagi pemecahan
masalah putus asa ini. Jika tidak segera ditangani maka sangat berpengaruh pada
psikis siswa dan berpengaruh pada prestasi belajarnya.
Sebab-sebab
siswa mudah putus asa diantaranya sebagai berikut :
Pertama.
Pendidikan
masa kecil yang terlalu dimanja. Anak yang terlalu dimanja saat kecil dan
remaja bisa membuat anak rapuh dan tidak kuat bila suatu saat menghadapi
sedikit rintangan dalam hidupnya. ia sudah terbiasa hidup enak dan dilayani
sehingga kurang punya kreativitas bisa menemui kesulitan. Kedua. Pernah gagal. Kegagalan masa lalu ini
bisa menjadi penyebab seseorang untuk putus asa. Namun hal ini bisa diatasi
dengan selalu menanamkan pikiran positif dalam dirinya. Ketiga. Kurang bersyukur. Setiap anak punya keunikan dan
kelebihan. namun anak terkadang belum mapu melihat keistimewaan itu. Sehingga
yang dilihat hanyalah kekurangan semata. Keempat. Keadaan lingkungan. Keadaan lingkungan seringkali
mempengaruhi semangat anak dalam belajar, namun yang terpenting adalah bagaimana
usahanya dalam mencapai keberhasilan.
Penanganan
bagi siswa yang mengalami rasa putus asa dalam belajar yaitu:
1.
Pemeriksaan
fisik. Pemeriksaan perlu dilakukan misal pada anak yang
mengalami masalah kesehatan mata, dan belum pernah diperiksa. Ternyata
diketahui bahwa penyebab selama ini anak pusing dan berkunang-kunang saat
membaca buku adalah mata yang kelelahan dan kurang sehat tetapi belum
ditangani. Jika fisik sudah ditangani maka perlu adanya penanganan terhadap
psikis anak.
2.
Belajar
bersyukur. Mengingatkan anak untuk bersyukur untuk hal-hal
yang dapat membantu dalam belajar sangatlah perlu. Dengan menyukuri apa yang
dimiliki seperti tangan, mata, buku, jika dibandingkan mereka yang tidak
memiliki tangan untuk menulis, mata untuk membaca, kemampuan orang tua untuk
menyekolahkan. Bersyukur ditunjukkan dengan mengindari berkeluh kesah yang
berlebihan. Jika memang ada masalah maka bisa di ceritakan kepada orangtua,
konselor maupun teman dekat untuk meringankan beban mental.
SELENGKAPNYA
Klik: Koran pendidikan mengatasi rasa putus asa dalam belajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar