Senin, 21 Oktober 2013

Tips meningkatkan kinerja konselor (Mengatasi Burnout)

Tips mengatasi Burnout Konselor 
Burnout adalah terkurasnya kondisi jasmani atau rohani seseorang, sehingga tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Masalah (burnoutini bisa berakibat tidak produktifnya konselor jika tidak cepat diatasi. 
Salah satu cara yang bisa dilakukan konselor untuk mengatasi burnout adalah dengan mengubah lingkungannya (Wilkerson & Bellini, 2006). Sebagai contoh, konselor bisa melakukan penataan ulang terhadap perabot di tempat kerjanya, merapikan kembali arsip-arsip dengan cara membuang arsip yang sudah tidak terpakai dan membuat arsip baru, menulis untuk menuangkan ide-ide dan melakukan diskusi dengan teman-teman seprofesi.
Konselor yang tidak produktif akan sulit menjaga efektivitasnya sebagai seorang konselor. Di lingkungan kerja dia akan banyak berbenturan dengan pelaksanaan tugas yang terbengkalai dan buruknya kinerja. Hal ini tentu saja tidak hanya merugikan dirinya, tetapi juga merugikan konseli dan rekan kerja disekitarnya. Kerugian pada diri sendiri meliputi terhambatnya proses pengembangan diri, berkurangnya kepercayaan dari orang lain hingga menurunnya harga diri. Sedangkan pada konseli akan berakibat pada tidak terlayaninya konseli dengan baik sehingga menjadikan kegagalan dalam mengentaskan konseli dari permasalahan. Orang disekitarnya juga akan menghadapi kerugian karena ketidakefektivan konselor. Kinerja yang buruk dari konselor akan berakibat pada buruknya kerjasama antara konselor dengan rekan sekerja.
Melihat hal negative yang dimunculkan dari burnout, tampaknya konselor perlu menyikapi secara serius apabila mulai menengarai kemunculan burnout pada dirinya. Penting bagi konselor untuk berfikir dan melakukan tindakan tentang bagaimana dia menangani masalah yang dimunculkan oleh peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang berakibat pada terjadinya burnout.
Gladding (2012), menyampaikan beberapa hal yang bisa dilakukan konselor untuk mengurangi atau menghindari burnout, yaitu: (a) Menjalin hubungan dengan individu yang sehat jasmani dan rohani; (b) Bekerjasama dengan sejawat dan organisasi yang memiliki komitmen dan misi yang jelas; (c) Menggunakan teori-teori konseling yang ada; (d) Melakukan latihan mengusir stress; (e) Mengubah hal-hal di lingkungan sekitar yang sekiranya dapat menimbulkan stress; (f) Melakukan penilaian diri (mengidentifikasi hal apa saja yang dapat menimbulkan stres dan apa yang membuat rileks); (g) Secara berkala memeriksa dan mengklarifikasi peranan, tuntutan, keyakinan konseling (seperti bekerja lebih cerdas disbanding lebih lama); (h) Mengikuti terapi personal; (i) Menyediakan waktu luang dan pribadi (misalnya, gaya hidup seimbang); (j) Menjaga sikap dan mengambil jarak ketika bekerja dengan klien; (k) Mempertahankan sikap berpengharapan
Cara-cara yang disampaikan Glading di atas bisa dipilih konselor mana yang sekiranya memungkinkan untuk dilakukan. Konselor perlu membuat daftar dari cara yang teringan hingga yang paling berat yang bisa dilakukan. Jika beberapa cara sudah cukup membuat konselor kembali bisa produktif maka konselor bisa menghentikan dan selanjutnya bisa memulai kerja dengan perasaan dan semangat baru.
Artikel ini pernah dimuat di koran pendidikan Kamis 10 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar